Tampilkan postingan dengan label Utama. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Utama. Tampilkan semua postingan

15 November 2007

Ingin Melihat Aktivitas Anak Krakatau dari Dekat, Siap Diterjang Ombak Selat Sunda

Oleh Elde Domahy Lendong, S.Fil

Sejak menggeliatnya aktivitas Gunung Anak Krakatau, pada tanggal 23 Oktober 2007 lalu, dari aktif normal ke status waspada dan sejak 27 Oktober 2007 dinaikkan menjadi status siaga level III hingga saat ini, kita terdorong untuk membongkar lagi dokumen sejarah meletusnya Gunung Krakatau 26 Agustus 1883 silam yang menewaskan kurang lebih 36 ribu jiwa manusia.

Selain itu sebagian besar orang yang belum pernah melihat Gunung Anak Krakatau mungkin merasa penasaran untuk menyaksikan dari dekat aktivitas Gunung Anak Krakatau, yang diberitakan secara intens di berbagai media massa baik cetak maupun eletronik itu. Berbagai kemasan bahasa di media massa dalam memberitakan aktivitas Gunung Anak Krakatau itu terkadang simpang siur dan menimbulkan kesan menakutkan dan mencemaskan, sehingga membuat sebagian orang enggan untuk melakukan kunjungan wisata atau berlibur di Pantai Anyer, Carita dan Labuan, Banten. Kendati dalam faktanya, masyarakat di sekitar Anyer, Carita dan Labuan tetap melakukan aktivitas seperti biasa.

Karena terdorong oleh rasa penasaran dan rasa ingin tahu, saya bersama sejumlah wartawan lainnya yang bertugas di Provinsi Banten, dan juga rombongan wisatawan dari Hotel Mambruk, Anyer, Sabtu (10/11) berangkat ke Gunung Anak Krakatau dengan menggunakan KM Bernadeta, guna menyaksikan dari dekat, asap yang keluar dari kawah Gunung Anak Krakatau dan juga pijaran api. Kapal yang hanya berkapasitas 22 orang itu, harus mengangkut penumpang lebih dari kapasitas biasanya, sebanyak 30 orang termasuk anak buah kapal (ABK). KM Bernadeta akhirnya berjalan lamban hanya dengan kecepatan 16 knot per jam. Apalagi cuaca pada saat itu sangat buruk, KM Bernadeta melaju perlahan membela ombak yang tinggi dan melawan arus yang begitu besar. Padahal, pada situasi normal, KM Bernadeta mampu melaju dengan kecepatan maksimal, 22 knot per jam.

Akibatnya, perjalanan yang semula ditargetkan hanya membutuhkan waktu dua jam sampai ke lokasi, namun karena cuaca tidak memungkinkan, perjalanan kami memakan waktu tiga setengah jam lebih. Kami berangkat dari Pantai Anyer pukul 14.30 WIB, dan tiba di Gunung Anak Krakatau pukul 18.15 WIB. Karena aktivitas Anak Krakatau meningkat, para wisatawan atau pun para wartawan yang berkunjung ke sana, dilarang untuk mendarat di Gunung Anak Krakatau. Karena itu, kami hanya bisa mengamati dari radius 500 meter dari kaki Gunung Anak Krakatau. Kapal yang kami tumpangi berhenti di antara Pulau Rakata dan Gunung Anak Krakatau.

Rencana semula untuk mengambil gambar aktivitas Gunung Krakatau ketika menyemburkan asap dan memuntahkan lava panas dan pijaran api, tidak bisa dilakukan, karena sebelum kami tiba di lokasi, kapal yang kami tumpangi diterjang hujan lebat dan angin kencang sehingga ombak pun semakin tinggi dan arus air laut semakin besar. Sepanjang perjalanan kapal terus diterjang ombak, sehingga membuat sebagian wartawan dan rombongan wisatawan dari Hotel Mambruk, mabuk dan muntah-muntah.

Cuaca di sekitar Gunung Anak Krakatau, pada saat itu sangat tidak mendukung untuk mengambil gambar dan mengabadikan aktivitas gunung itu. Pada pukul 18.00 WIB, suasana di sekitar Anak Krakatau sangat gelap. Kami tidak bisa melihat semburan asap tebal yang keluar dari kawah gunung itu. Kami hanya bisa melihat Anak Krakatau memuntahkan lava panas dan pijaran api.

Pemandangannya memang sangat indah ketika Anak Krakatau memuntahkan pijaran api dan lava. Pijaran api yang keluar dari perut Gunung Anak Krakatau setiap lima sampai 10 menit itu terdiri dari berbagai bentuk. Ada yang berbentuk bulat, ada yang berbentuk panjang dan ada juga yang berupa kilatan api yang sangat panjang.

Namun, kami tidak bisa berlama untuk menikmati pemandangan indah pijaran api dari kawah Gunung Anak Krakatau itu, karena ombak semakin membesar di wilayah itu. Akhirnya, sekitar pukul 18.45 WIB, kami kembali ke Anyer. Namun, dalam perjalan pulang, kami diterjang lagi oleh hujan lebat, dan kami tidak bisa melanjutkan perjalanan karena ombak semakin membesar.

KM Bernadeta yang dinahkodai Imam, harus berhenti di balik Pulau Rakata selama tiga jam, menunggu angin dan hujan reda. Sekitar pukul 21.00 WIB, kami melanjutkan perjalanan, dan tiba kembali di Anyer pada pukul 24.00 WIB.

“Kita sebenarnya masih berlama-lama untuk menikmati pemandangan indah pijaran api dari kawah Gunung Krakatau. Namun, karena cuaca tidak memungkinkan dan kita tidak mau menanggung resiko yang tidak diinginkan, kita harus pulang. Pijaran api yang dimuntahkan dari Anak Krakatau itu bisa dijadikan obyek wisata baru yang bisa menarik wisatawan manca negara dan juga domestik. Namun, para wisatawan yang hendak berkunjung ke Gunung Krakatau harus mengikuti aturan yang ditetapkan petugas dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, agar tidak mendekati kawasasan itu dari radius tiga kilometer,” ujar President Director Hotel Mabruk, Khusaeri Seger ketika dalam perjalanan pulang dari Gunung Krakatau, Minggu (11/11) malam.

Khusaeri mengatakan, akibat pemberitaan yang simpang siur dari media massa selama ini, banyak pengelola obyek wisata yang merugi karena wisatawan yang hendak berlibur dan berkunjung ke Anyer menjadi takut dan khawatir dengan aktivitas Gunung Anak Krakatau. Padahal, kata Khusaeri, pihak Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi sudah merekomendasikan bahwa aktivitas Gunung Anak Krakatau itu tidak berbahaya, dan tidak akan menyebabkan terjadinya tsunami dan gempa tektonik.

“Pemberitaan media massa yang selalu menggambarkan aktivitas Gunung Anak Krakatau yang semakin meningkat, membuat sebagian pengunjung ke Anyer merasa takut. Bahkan sebelum orang berkunjung dan berlibur ke Anyer, harus bertanya terlebih dulu ke pihak pengelola hotel mengenai kemungkinan meletusnya Gunung Anak Krakatau. Kami selalu meyakinkan para pengunjung untuk tidak merasa takut dan khawatir dengan aktivitas Gunung Anak Krakatau,” ujar Khusaeri.

Khusaeri mengatakan, seluruh masyarakat di Anyer dan sekitarnya, bahkan para nelayan tetap melakukan aktivitas seperti biasa, dan tidak pernah merasa terganggu dengan aktivitas Gunung Anak Krakatau itu. Aktivitas Anak Gunung Kraktau itu, kata Khusaeri menjadi pemandangan biasa bagi para nelayan.

“Kami sering berlayar siang dan malam di laut, sekitar Gunung Anak Krakatau. Kami tidak pernah merasa terganggu dengan aktivitas Gunung Anak Krakatau itu. Bahkan para nelayan menjadikan pijaran api itu sebagai lampu mercusuar,” ujar Imam, salah seorang nahkoda kapal nelayan.

Daya Tarik Wisata

Salah satu pegawai hotel di kawasan Anyer, Yohana, menjelaskan, sebenarnya aktivitas Gunung Anak Krakatau tidak mengganggu kenyamanan para pengunjung di Anyer. Namun, kata Yohana, orang yang hendak berlibur ke Anyer selalu bertanya soal kemungkinan meletusnya Gunung Anak Krakatau, akibat pemberintaan media massa yang berlebihan.

“Kami sudah bertanya ke ahli geologi dan vulkanologi, aktivitas Gunung Anak Krakatau itu tidak menimbulkan tsunami dan gempa bumi. Rekomendasi dari ahli vulkanologi itu yang kami jelaskan kepada para pengunjung dan juga orang-orang yang hendak berkunjung ke Anyer,” ujarnya.

Hal ini dibenarkan juga oleh ahli geologi wisata ekologi selaku Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Perhimpunan Obyek Wisata Indonesia (Putri) Jawa Barat, Ir H Soewarno Darsoprajitno, bahwa aktivitas Gunung Anak Krakatau yang saat ini sedang terjadi, tidak akan menyebabkan terjadinya letusan dan tidak akan menyebabkan tsunami.

“Aktivitas Gunung Anak Krakatau berupa semburan asap dan lava pijar itu bisa dijadikan obyek wisata baru. Hanya para pengunjung harus tetap waspada dan tidak boleh mendekat pada radius tiga kilometer, sebagaimana direkomendasikan oleh Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, Bandung,” kata Sarwono.

Hal yang sama dijelaskan oleh Wakil Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran (PHRI) Banten, Ashok Kumar. Menurutnya, gejala alam yang tampak dari puncak Gunung Anak Krakatau, di satu sisi bisa menimbulkan ketakutan dan kekhawatiran, kalau gunung itu akan meletus dan membahayakan nyawa manusia, namun di sisi lain kepulan asap dari gunung itu bisa dijadikan daya tarik bagi wisatawan untuk menyaksikan secara langsung fenomena alam yang terjadi di gunung itu.

Fenomena alam yang menakutkan sekaligus menarik itu, kata Ashok bisa menyedot perhatian wisatawan untuk datang ke Banten.

“Belajar dari pengalaman 2001 lalu, banyak wisatawan datang ke Banten hanya untuk menyaksikan letusan Gunung Anak Krakatau. Semburan dan percikan api dari kawah Anak Gunung Krakatau pada saat itu, memiliki daya tarik tersendiri bagi para wisatawan. Apalagi, semburan dan percikan api itu, disaksikan pada malam hari, tampaknya sangat indah,” ujar Ashok

Menurut Ashok, ada banyak hal yang bisa dipromosikan kepada wisatawan domestik dan manca negara terkait aktivitas Gunung Anak Krakatau saat ini. Status siaga aktivitas Gunung Anak Krakatau, kata Ashok, bisa dijadikan momen yang sangat tepat untuk menjelaskan dan memaparkan kepada wisatawan tentang aspek historiss Gunung Anak Krakatau yang pernah mengguncang dunia lewat letusannya, tanggal 26 Agustus 1883 silam.

“Dalam waktu dekat ini PHRI Banten berencana akan melakukan promosi aspek wisata dari fenomena yang sedang terjadi di Anak Gunung Krakatau. Hal ini dilakukan untuk menarik wisatawan datang ke Banten,” kata Ashok.

Dia berharap, dengan adanya informasi tentang Anak Gunung Krakatau yang sedang bergeliat dan jaraknya hanya 40 kilometer dari bibir Pantai Anyer tidak hanya menakutkan tentang statusnya yang saat ini siaga, tetapi juga bagaimana memberikan penjelasan tentang sejarah Gunung Anak Krakatau, sehingga wisatawan dapat menikmati fenomena alam tersebut.***

Muntahan Lava Pijar, Karakter Khas Gunung Anak Krakatau

Oleh Elde Domahy Lendong, S.Fil

Status aktivitas Gunung Anak Krakatau hingga kini masih siaga level tiga. Pihak, Kantor Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, Bandung, telah merekomendasikan bahwa aktivitas Gunung Anak Krakatau tidak akan menimbulkan bahaya gempa tektonik dan tsunami. Bahkan, beberapa tim pemantau dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, sudah terjun ke lokasi dan memastikan kemungkinan terburuk dari aktivitas Gunung Anak Krakatau saat ini. Dari pemantauan itu, dan berdasarkan hasil rekaman alat seismograf di Pos Pemantau Gunung Anak Krakatau di Pasauran, Kecamatan Cinangka, Serang, Banten, dipastikan bahwa aktivitas Gunung Anak Krakatau tidak akan menimbulkan letusan.

Kantor Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi hanya merekomendasikan agar para nelayan, masyarakat, dan para wisatawan tidak mendekat ke kawah Gunung Anak Krakatau dalam radius tiga kilometer. Karena itu, satuan koordinasi pelaksana (satkorlak) penanganan bencana di tingkat provinsi baik itu Provinsi Banten maupun Provinsi Lampung, perlu melakukan sosialisasi kepada masyarakat supaya tidak merasa takut dan khawatir dengan aktivitas Gunung Anak Krakatau itu. Memang, faktanya, masyarakat di sekitar Anyer, Labuan, dan Carita, yang berada dekat dengan Gunung Anak Krakatau, tetap melakukan aktivitas seperti biasa.

Namun, pemberitaan media massa baik cetak maupun elektronik yang intensif dan cenderung berlebihan membuat sebagian masyarakat berspekulasi dan berasumsi bahwa status Gunung Anak Krakatau dalam keadaan bahaya. Masyarakat seakan dibawa lagi ke sejarah masa silam Gunung Krakatau yang meletus sangat dahsyat dan menakutkan. Sebagian orang akhirnya membongkar lagi dokumen sejarah ribuan tahun lalu, dan akibatnya rasa takut berlebihan pun akan muncul.

Memang, kalau kita membaca lagi sejarah meletusnya Gunung Krakatau, pasti akan muncul rasa takut dan khawatir karena sejarah telah mencatat bahwa letusan Gunung Krakatau ribuan tahun silam, mengakibatkan gempa tektonik dan tsunami yang terdahsyat. Bahkan, menurut catatan sejarah, letusan Gunung Krakatau yang terletak di Selat Sunda, antara Pulau Jawa dan Sumatera itu, memiliki daya ledak 30 ribu kali dari bom atom yang meledak di Hiroshima dan Nagasaki di akhir Perang Dunia II, sehingga bunyi ledakannya terdengar sampai di Alice Springs, Australia dan Pulau Rodrigues dekat Afrika.

Bukan hanya itu, letusan Krakatau juga menyebabkan terjadinya perubahan iklim global. Dunia sempat gelap selama dua setengah hari, akibat debu vulkanis yang menutup atmosfer. Matahari bersinar redup sampai setahun berikutnya. Bahkan hamburan debu vulkanis tampak di langit Norwegia hingga New York.

Dikatakan bahwa ledakan Krakatau itu sebenarnya masih kalah dibandingkan dengan letusan Gunung Toba dan Gunung Tambora, serta Gunung Tanpo di Selandia Baru dan Gunung Katmal di Alaska. Namun gunung-gunung tersebut meletus jauh di masa populasi manusia masih sangat sedikit. Sementara ketika Gunung Krakatau meletus, populasi manusia sudah cukup padat, sains dan teknologi telah berkembang, telegraf sudah ditemukan, dan kabel bawah laut sudah dipasang.

Karena itu, letusan Gunung Krakatau dicatat sebagai bencana besar pertama di dunia setelah penemuan telegraf bawah laut. Sejarah Gunung Krakatau yang menggegerkan dunia itu, membuat sebagian orang takut ketika mendengar Gunung Anak Krakatau beraktivitas lagi.

Menurut catatan seorang peneliti Simon Winchester, selaku ahli geologi lulusan Universitas Oxford Inggris yang juga penulis National Geoghrapic, ledakan Gunung Krakatau adalah yang paling besar, suara paling keras dan peristiwa vulkanik yang paling meluluh-lantakkan dalam sejarah manusia moderen. Suara letusannya terdengar sampai 4.600 km dari pusat letusan dan bahkan dapat didengar oleh 1/8 peduduk bumi saat itu.

Sementara menurut para peneliti di University of North Dakota, ledakan Krakatau bersama Gunung Tambora (1815) mencatatkan nilai Volcanic Explosivity Index (VEI) terbesar dalam sejarah modern. Sedangkan buku The Guiness Book of Records mencatat ledakan Krakatau sebagai ledakan yang paling hebat yang terekam dalam sejarah.

Para peneliti mencatat bahwa ribuan korban manusia akibat letusan Gunung Krakatau itu, berasal dari 295 kampung kawasan pantai mulai dari Merak, yang pada saat itu masuk wilayah Kabupaten Serang, hingga Cimalaya di Karawang, Jawa Barat, pantai barat Banten hingga Tanjung Layar di Pulau Panaitan (Ujung Kulon) serta Sumatera bagian selatan.

Masih menurut sejarah bahwa, Gunung Krakatau berasal dari Gunung Krakatau Purba. Para ahli memperkirakan pada masa purba, terdapat sebuah gunung yang sangat besar di Selat Sunda, dan kemudian meletus dahsyat yang menyisakan sebuah kaldera (kawah besar) yang disebut Gunung Krakatau Purba yang merupakan induk dari Gunung Krakatau.

Sisi-sisi atau tepi kawah dari Gunung Krakatau Purba itu disebut sebagai Pulau Rakata, Pulau Rakata Kecil dan Pulau Sertung. Dikatakan bahwa Pulau Rakata, yang merupakan satu dari tiga pulau sisa Gunung Krakatau Purba kemudian tumbuh sesuai dengan dorongan vulkanik dari dalam perut bumi yang dikenal sebagai Gunung Rakata. Kemudian, dua gunung api muncul dari tengah kawah, bernama Gunung Danan dan Gunung Perbuwatan yang kemudian menyatu dengan Gunung Rakata yang muncul terlebih dahulu. Persatuan ketiga gunung api inilah yang disebut Gunung Krakatau.

Berdasarkan catatan para ahli, muai pada tahun 1927 atau kurang lebih 40 tahun setelah meletusnya Gunung Kakatau, muncul gunung api yang dikenal sebagai Gunung Anak Krakatau dari kawasan kaldera purba tersebut yang masih aktif.

Tahun 2015-283

Beberapa ahli geologi memprediksikan bahwa letusan Gunung Anak Krakatau bakal terjadi antara 2015-2083. Namun pengaruh dari gempa di dasar Samudera Hindia pada 26 Desember 2004, yang meluluh-lantahkan Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) juga tidak bisa diabaikan. Sementara menurut Profesor Ueda Nakayama, salah seorang ahli gunung api dari Jepang, Anak Krakatau masih relatif aman meskipun aktif dan sering ada letusan kecil, hanya ada saat-saat tertentu para turis dilarang mendekati kawasan ini karena bahaya lava pijar yang dimuntahkan gunung api ini. Para pakar lain menyatakan tidak ada teori yang masuk akal tentang Anak Krakatau yang akan kembali meletus. Kalaupun ada minimal tiga abad lagi. Namun yang jelas, angka korban yang ditimbulkan diperkirakan lebih dahsyat dari letusan induknya, Gunung Krakatau.

Menurut anggota tim pemantau dari Kantor Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, Bandung, Cahaya Patria, hingga kini status Gunung Anak Krakatau masih siaga. Aktivitas yang terjadi di gunung itu tetap fluktuatif.

“Aktivitas yang terjadi di Gunung Anak Krakatau tidak berbahaya dan tidak akan menimbulkan letusan yang besar, sehingga menimbulkan tsunami dan gempa tektonik. Aktivitas itu terjadi rutin setiap lima tahun atau 10 tahun sekali,” ujar Cahaya Patira ketika dihubungi Minggu (11/11) malam.

Ia menjelaskan, kepulan asap yang keluar dari kawah Gunung Anak Krakatau akibat terjadinya gerakan magma dari dalam perut gunung itu, dan juga akibat gempa vulkanik A (gempa dalam) dan gempa vulkanik B (gempa dangkal). Ia mengungkapkan, aktivitas Gunung Anak Krakatau itu hanya seperti itu dan tidak akan meningkat. Dalam waktu beberapa bulan ke depan, aktivitas gunung itu akan mereda dan kembali ke aktif normal.

“Pada tahun 2001 lalu, aktivitas yang sama terjadi di Gunung Anak Krakatau. Sekarang muncul lagi aktivitas yang sama. Jadi, aktivitas gunung itu tidak menimbulkan bahaya,” ujar Cahaya.Cahaya mengatakan, muntahan lava pijar atau pijaran api dari kawah Gunung Anak Krakatau merupakan karakter khas gunung itu pada setiap kali terjadi peningkatan aktivitas dari status aktif normal ke waspada dan siaga.

“Lava pijar itu ditimbulkan oleh gerakan magma dari dalam perut Gunung Anak Krakatau. Pijaran api yang keluar itu bisa berupa batu dan juga cairan vulkanik yang kemudian akan membeku menjadi batu,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Pos Pemantau Gunung Anak Krakatau di Pasauran, Kecamatan Cinangka, Serang, Banten, Anton, kepada SP menjelaskan hingga saat ini, aktivitas Gunung Anak Krakatau tetap fluktuatif, terkadang naik dan terkadang menurun.***


Perjuangan Masih Panjang Menuju Terwujudnya Pembangunan Jembatan Selat Sunda

Oleh Elde Domahy Lendong, S. Fil

Mega proyek Jembatan Selat Sunda (JSS) akan menjadi salah satu keajaiban dunia. Jembatan yang menghubungkan Pulau Jawa dan Sumatera ini, tentu akan menelan dana yang sangat besar karena dari segi konstruksinya, jembatan ini akan dibangun menggunakan teknologi tinggi dan modern. Memang kalau dilihat secara sepintas, gagasan pembangunan JSS ‘ibarat mimpi di siang bolong.’ Namun, gagasan impossible yang berawal dari mimpi itu, kini mulai berlangkah menuju kenyataan. Sebuah karya besar yang spektakuler dan monumental terlahir dari sebuah mimpi, akan menorehkan sejarah yang besar pula. Hal yang sama, jika gagasan pembangunan JSS akan terwujud, akan menorehkan sejarah yang monumental.

Gagasan pembangunan JSS memang bukan baru sekarang dimunculkan ketika Pemerintah Provinsi (Pemprov) Banten dinahkodai Gubernur Hj Ratu Atut Chosiyah, dan Gubernur Lampung Sjahcroedin ZP. Kedua gubernur ini, hanya sebagai penggerak untuk membangkitkan kembali mimpi besar bangsa ini yang selama puluhan tahun terpendam. Alhasil, semangat yang dipancarkan Gubernur Lampung dan Gubernur Banten beserta DPRD dari kedua provinsi itu, mampu menyedot perhatian dari semua pihak termasuk Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Dukungan yang diberikan oleh Presiden SBY, membuat kedua provinsi yang akan merasakan dampak secara langsung dari pembangunan JSS itu terus menggalang dukungan. Hasilnya, Badan Kerjasama DPRD Provinsi Seluruh Indonesia (BKDPSI) juga secara spontan menyatakan dukungannya secara penuh terhadap rencana mega proyek itu. Bahkan BKDPSI se-Jawa dan Sumatera mengaktualisasikan dukungannya dengan membuat pernyataan tertulis. Selain itu, Gubernur se-Sumatera juga ikut mendukung rencana tersebut.

Sejarah Perjuangan JSS

Kalau kita telusuri secara historis, gagasan pembangunan JSS ini pertama kali dicetus oleh almarhum Prof Dr Sedyatmo, pada tahun 1960-an. Ia mengusulkan gagasan terkait dibuatnya hubungan langsung antara Pulau Sumatera dan Jawa. Kendati pada saat itu, situasi ekonomi Indonesia masih terseok-seok, Sedyatmo, dengan penuh keberanian menelurkan sebuah gagasan brilian dan terbilang berani itu.

Namun, ide yang semula dianggap impossible itu, ternyata mendapat respon yang positif dari pemerintah pusat, di mana pada tahun 1965 dibuatlah uji coba desain jembatan yang menghubungkan Sumatera-Jawa atau disebut Jembatan Selat Sunda yang dibuat di Institut Teknologi Bandung (ITB). Kemudian, gagasan dan konsep-konsep pengembangan jembatan antar pulau itu disampaikan kepada Presiden RI Soeharto awal Juni 1986.

Pada tahun 1986, Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) bertemu dengan delegasi dari perusahaan perdagangan Jepang, guna membahas kemungkinan kerjasama proyek-proyek di Indonesia. Para delegasi Jepang yang ikut dalam pembahasan itu, memberikan signal positif untuk kerjasama dalam proyek hubungan langsung Jawa-Sumatera-Bali.

Peluang ini, dimanfaatkan oleh pemerintah Indonesia. Pada tahun 1986 juga, Presiden Soeharto pada saat itu menunjuk Menteri Negara Riset dan Teknologi/Kepala Badan Penerapan dan Pengkajian Teknologi (BPPT) BJ Habibie guna melakukan kajian awal kemungkinan dibangunnya jembatan yang menghubungkan Sumatera-Jawa-Bali, dengan mengacu pada konsep-konsep dari Prof Sedyatmo.

Mega proyek ini diberi nama Tri Nusa Bima Sakti. Pemerintah kemudian membagi tugas, yakni BPPT melakukan studi terkait dengan kondisi alam, sedangkan Departemen Pekerjaan Umum (DPU) melakukan studi tentang sosio ekonomi dan implementasinya.

Pada tahun yang sama, delegasi Jepang yang dipimpin Dr Ibukiyama datang ke Indonesia untuk melakukan kajian awal. Jepang dan Indonesia pun membuat sebuah forum kerjasama yang dinamakan Japan-Indonesia Science and Technology Forum (JIF). Forum ini dibentuk oleh sebuah perusahaan swasta Jepang dan BPPT.

Tahap selanjutnya, sebagai langkah promosi proyek Tri Nusa Bima Sakti itu, maka dibuatlah seminar bertajuk "Japan-Indonesia Seminar on Large Scale Bridges and Under Sea Tunnel," yang dilaksanakan di Jakarta, 21-24 September 1986. Seminar tersebut kemudian dilanjutkan dengan serangkaian studi pendahuluan hingga tahun 1989. Karena studi tersebut mencakup hubungan tiga pulau atau lebih, nama proyek disempurnakan menjadi "Proyek Tri Nusa Bima S a k t i dan Penyeberangan Utama". Dari kajian-kajian yang dilakukan, yang dianggap layak untuk segera diimplementasikan adalah hubungan langsung Jawa-Madura/ Bali yang disebut Jembatan Suramadu.

Sejak tahun 1986 itu, gagasan pembangunan JSS sudah tidak terdengar lagi, karena pihak Jepang dan BPPT berkonsentrasi untuk meloloskan proyek Jembatan Suramadu. Akhirnya pada tanggal 14 Desember 1990 proyek pembangunan Jembatan Surabaya-Madura (Suramadu) dan pengembangan kawasan dikukuhkan sebagai proyek nasional melalui penerbitan Keputusan Presiden Nomor 55 Tahun 1990 tentang Proyek Pembangunan Jembatan Surabaya-Madura. Namun, pada tahun 1997, Indonesia terkena krisis moneter sehingga proyek besar itu ikut terganjal.

Berdasarkan sidang kabinet 16 September 1997, pemerintah memutuskan untuk menunda pelaksanaan pembangunan beberapa proyek besar termasuk rencana pembangunan jembatan Suramadu. Penundaan tersebut diperkuat dengan Keputusan Presiden Nomor 39 Tahun 1997, tanggal 20 September 1997, tentang Penangguhan/ pengkajian kembali proyek pembangunan BUMN dan swasta yang berkaitan dengan Pembangunan/ BUMN.

Keputusan pemerintah untuk menunda proyek Jembatan Suramadu itu tidak berarti proyek ini berhenti. Dalam Keputusan Presiden Nomor 8 Tahun 1998 tentang prioritas program infrastruktur, dinyatakan apabila pembangunan Jembatan Suramadu akan dilanjutkan, maka kegiatan tersebut harus masuk daftar prioritas infrastruktur yang dikoordinasikan Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas).

JSS Diangkat Kembali

Setelah selama kurang lebih 21 tahun, gagasan pembangunan JSS, terpendam dan hilang dari peredaran, Gubernur Banten Hj Ratu Atut Chosiyah dan Gubernur Lampung Sjahcroedin ZP mencoba mengangkat kembali gagasan itu ke permukaan. Kedua gubernur yang didukung oleh DPRD dari kedua provinsi mengawali pemunculan kembali gagasan pembangunan JSS itu dengan menandatangani nota kesepakatan Memorandum of Understanding (MoU) percepatan pembangunan JSS, di Lampung 10 Agustus 2007.

MoU antara Gubernur Banten dan Gubernur Lampung itu dibuat untuk secara bersama-sama memperjuangkan kepada pemerintah pusat, agar tahapan pembangunan JSS dipercepat dan pembangunan JSS itu dimasukan dalam Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) nasional. Upaya dari Pemprov Banten dan Lampung ini ternyata mendapat respon positif dari pemerintah pusat.

Akhirnya, pada tanggal 3 Oktober 2007, dilakukan penandatanganan Memorandum of Agreement (MoA) pra studi kelayakan (pre feasibility study) JSS antara Gubernur Banten Hj Ratu Atut Chosiyah, Gubernur Lampung Sjahcroedin ZP, Prof Dr Ir Wiratman Wangsadinata dari Wiratman Associates, selaku konsultan teknik, dan pengusaha Tommy Winata dari Artha Graha (AG) Network, di atas Kapal Tunas Wisesa 03, di Perairan Pulau Sangyang, Selat Sunda.

MoA pra studi kelayakan itu, juga ditandatangani oleh Bupati Serang Taufik Nuriman, Wali Kota Cilegon, yang diwakili Wakil Wali Kota Rusli Ridwan. Sementara dua menteri dari Kabinet Indonesia Bersatu, yakni Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional /Kepala Bappenas Paskah Suzetta dan Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Hatta Rajasa menyaksikan penandatanganan MoA itu.

Panjang jembatan itu sekitar 29 kilometer, yang dapat dilalui ribuan kendaraan roda empat atau lebih dan motor. Dalam perencanaan, di tengah jembatan itu akan dibangun rel kereta api (KA) double track. Jembatan ini akan melintasi tiga pulau kecil yakni Pulau Prajurit, Pulau Sangiang dan Pulau Ular.

Pembangunan JSS ini akan menelan dana sekitar Rp 90,2 triliun. Untuk studi kelayakan dan jasa teknik dibutuhkan dana Rp 1,8 triliun. Untuk pekerjaan konstruksi JSS dibutuhkan waktu sekitar enam sampai sepuluh tahun. JSS berkapasitas 160 ribu kendaraan per hari dan dapat melayani angkutan batu bara sebanyak 1,75 juta ton per tahun.

“Pemerintah sangat mendukung pembangunan infrastruktur, sebab pembangunan JSS akan mampu meningkatkan pertumbuhan ekonomi,” ujar Paskah.

Menurut Wiratman, penandatanganan MoA pra studi kelayakan itu, merupakan awal dari proses yang sangat panjang sebelum pembangunan JSS dapat dilaksanakan tiga tahap yakni tahap pembuatan pra studi kelayakan (2007-2009), tahap pembuatan feasibility study atau studi kelayakan (2009-2013), dan tahap pembangunan JSS (2013-2025).

“Kami akan melakukan kajian secara komprehensif, baik itu dari segi ekonomi, politik, sosial budaya, dan juga soal alam seperti potensi tsunami dan gempa bumi, serta gunung berapi, dan juga terkait arus lalu lintas kapal di jalur Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI). Faktor alam seperti gempa bumi dan tsunami, sama sekali tidak menghalangi rencana pembangunan JSS itu,” ujar Wiratman.

Wiratman mengatakan, jika dalam hasil kajian nanti, ditemukan bahwa JSS itu akan melewati jalur ALKI, maka solusinya sangat mudah yakni dengan mengatur tinggi jembatan yang akan dibangun. Ia mengatakan, perjuangan mewujudkan pembangunan JSS memang masih panjang. Namun paling tidak, kata Wiratman, langkah awal menuju terwujudnya pembangunan JSS sudah dimulai.

“JSS akan mulai dioperasikan sekitar tahun 2025. Perjuangan masih panjang, karena masih banyak hal yang perlu dilakukan. Paling tidak, kita berjuang untuk mencapai target yang ada, dan melakukan tahapan sesuai dengan apa yang yang telah kita tentukan,” ujarnya.***